Friday, November 17, 2017

Proses Glundung dalam Penangkapan Emas

Oleh:
Anton Sutrisno, Susti Mediana dan Agus Susilo

1. Alat/Bahan

• Glundung
Glundung adalah alat yang berbentuk tabung yang terbuat dari baja berdiameter 27cm, 32cm, 50cm atau 60cm.


Penambangan Emas di Lebong

Oleh:
Anton Sutrisno, Susti Mediana, Agus Susilo

Kabupaten Lebong adalah salah satu kabupaten di provinsi Bengkulu yang diresmikan pada tanggal 7 Januari Tahun 2004, sebelumnya Lebong merupakan bagian dari Kabupaten Rejang Lebong. Daerah ini merupakan daerah potensial penambangan emas sejak zaman dahulu. Lebong telah terkenal dan banyak menghasilkan emas. Di kecamatan Lebong Utara penambangan emas primer telah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda dan masih berlangsung hingga sekarang. Bagi sebagian besar masyarakat di kecamatan Lebong Utara khususnya desa Lebong Tambang pekerjaan penambangan emas merupakan pekerjaan utama dalam kehidupan mereka sehari-hari, sedangkan bertani merupakan pekerjaan sampingan bagi mereka, dan hasil yang diperoleh dari pekerjaan penambangan emas ini dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Mereka melakukan penambangan secara konvensional secara turun temurun. Di kecamatan Lebong Utara ini terdapat tiga (3) lokasi tempat pengambilan dan pengolahan biji yang mengandung emas dan perak yaitu : 1). daerah Lebong Tambang, 2) daerah Tambang Sawah dan 3) daerah Hulu Sungai Ketenong. Pada daerah Lebong Tambang dan Tambang Sawah terlebih dahulu dilakukan penambangan, umumnya para penambang masih meneruskan cara pengambilan biji dari urat yang ditemukan oleh penjajah Belanda, sedangkan daerah Hulu Sungai Ketenong baru ramai dikerjakan oleh para penambang sejak tahun 1981 sampai sekarang. Mineralisasi emas yang terdapat di daerah ini merupakan sistem urat/vein bersama kwarsa, maka penambangan dilakukan dengan menggali serta membuat lobang/terowongan menyusuri sepanjang urat. Banyaknya batu kwarsa yang ditemukan disekitar lokasi penambangan merupakan pertanda bahwa di tempat tersebut banyak terdapat kandungan emas. Selain itu menurut para penambang tanda-tanda bahwa di tempat tersebut terdapat emas adalah adanya batu salur/mensen merah.

RUMPUT GRINTING (Cynodon Dactylon), BERTAHAN DAN MENYEBAR DENGAN LUAR BIASA

Oleh : Anton Sutrisno

LatarBelakang

Rumput grinting (CynodonDactylon) adalah jenis rumput yang memiliki kemampuan agak berlebihan dalam halbertahan hidup dibandingkan rumput jenis lain seperti rumput teki,rumput gajah, rumput manila, dan sebagainya. Bahkan rumput ini mampubertahan hidup di lahan yang tandus dalam musim kemarau sekalipunpertumbuhan daunnya menjadi minim. Ketika terkena mata bajak dan garupun rumput ini akan tetap terus hidup selama akarnya bersinggungan dengan tanah.

Rumput Grinting (Cynodon Dactilon)

Cynodon dactylon memiliki daya ekspansi yang besar, pada awalnya adalah tumbuhan pantai, saat ini sudah merambah di areal pertanian sebagai gulma yangmenjengkelkan petani. Rumput grinting merupakan gulma pada tanamanjagung, tebu kapas dan pada tanah perkebunan. Rumput yang sulit untukdi basmi dengan cara mekanik, seperti dibajak atau di cangkul maupundengan cara kimia dengan menggunakan herbisida. Kemampuan diabertahan dan dapat menyebar dengan cepat di pinggiran sugai,pinggiran irigasi dan pematang sawah sehingga dapat mengalahkan tumbuhan lain, membuat menarik untuk dibicarakan.


TEKNOLOGI VETIVER DAN BIOPORI UNTUK KONSERVASI TANAH PADA TANAH PERTANIAN YANG TERDEGRADASI

  Oleh : Anton Sutrisno


BAB I  

PENDAHULUAN


A.    Pendahuluan

Vetiver atau akar wangi
Di Indonesia pada umumnya, atau di Bengkulu pada khususnya memiliki topografi yang berbukit. Lahan pertanian untuk perkebunan atau lahan kering/tegalan kebanyakan tidak didesain dengan baik. Desain pengendalian erosi untuk mempertahankan kesuburan tanah atau mempertahankan laju erosi tanah jika terjadi hujan. Kecepatan aliran air dipermukaan tanah, mengakibatkan kecilnya serapan air hujan yang dapat terserap ke dalam tanah.

Konversi hutan menjadi tanaman perkebunan dalam jumlah yang sangat luas sangat mempengaruhi penyerapan air tanah. Terutama sekali untuk tanaman sawit yang sudah dikenal dengan tanaman yang rakus air. Akibatnya ketersediaan air tanah menjadi semakin berkurang, yang mengganggu ketersediaan air bersih untuk kebutuhan manusia.

Kegiatan pertanian dan perkebunan, seperti aktivitas pemupukan, pengangkutan hasil, termasuk juga pengolahan tanah dan aktivitas lainnya, secara komulatif telah mengakibatkan tanah tersebut mengalami penurunan kualitas. Secara fisik, akibat kegiatan tersebut mengakibatkan tanah menjadi bertekstur keras, tidak mampu menyerap dan menyimpan air. Secara kimia, penggunaan herbisida dan pestisida telah menjadi residu di dalam tanah. Demikian juga dengan pemupukan yang biasanya menggunakan pupuk kimia dan kurang menggunaakan pupuk organik akan mengakibatkan pencemaran air tanah, peningkatan keasaman tanah. Secara biologis, akibat aktivitas tersebut banyak mikro organisme tanah yang mati. Padahal organisme yang ada di dalam tanah memiliki peranan yang sangat besar dalam siklus hara tanah.

REDEFINISI PEMAHAMAN TANGUNG RENTENG


Oleh:
AntonSutrisno, SP. MSi.*dan Aria Candra, SH.**
*Faskab Perguliran dan Pengembangan Usaha Kabupaten Seluma Provinsi Bengulu.
**Spesialis Information Education and Comunication Provinsi Bengkulu.


Pedangang kecil yang tidak bankable
Pada saat berdiskusi dengan teman-teman pelaku pemberdayaan yang mengelola kegiatan dana bergulir untuk masyarakat miskin, ada pembicaraan yang menarik antara lain yaitu mengenai jaminan (borg). Program ini tidak menerapkan jaminan (collateral) sebagaimana lembaga keuangan pemerintah maupun swasta. Contohnya pada bidang perbankan yang berlaku di Indonesia saat ini.

Jaminan yang dipakai dalam pengelolaan dana bergulir (simpan pinjam perempuan) adalah tanggung renteng. Tanggung renteng bukan berupasurat berharga yang bisa di likuidkan, melainkan kegotongroyongankelompok masyarakat miskin yang nir asset. Mereka selama inidinyatakan sebagai kelompok yang tidak layak masuk bank (not bankable).

Pemerintah melakukan program khusus untuk mengurangi angka kemiskinan padalapisan masyarakat paling bawah (level pertama) melalui Bantuan  Langsung Tunai (BLT) yang diharapkan dapat berkembang meningkatkan penghasilannya sehingga dapat menurunkan derajat kemiskinannya pada level diatasnya. Pada level kedua ini adalah masyarakat miskin yang memiliki modal terbatas dan memiliki usaha yang dapat dikembangkan.Program yang menjadi sasarannya adalah Bantuan Langsung Masarakat (BLM). Untuk level ke dua ini banyak kegiatan yang digulirkan, seperti; PNPM Mandiri dengan berbagai varian yang dikelola oleh beberapa kementerian, misalnya Kementerian Dalam Negeri dengan PNPM Mandiri Perdesaan atau Kementerian Pertanian dengan PNPM Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaaan (PUAP). Harapan dari program pada level kedua ini adalah dapat menurunkan derajat kemiskinan ke level ketiga,sehingga mereka dapat mulai mengakses pinjaman melalui perbankan bersubsidi dari pemerintah seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat).